Rabu, 23 Oktober 2019

PENELUSURAN SERAT LONTAR JABALKAP


             SERAT LONTAR JABALKAP DI DESA KETARA PUJUT LOMBOK TENGAH

                 

Terkikisnya rasa bangga dan cinta terhadap budaya menjadi persoalan baru yang sedang kita hadapi di tengah merbaknya moderenisasi pada kalangan milenial, khususnya di pulau Lombok. Hal tersebut mendorong saya untuk mengetahui bagaimana sebenarnya budaya, adat, maupun pedoman hidup yang sudah dianut oleh nenek moyang (papuk baloq) suku sasak dan disepakati dalam bentuk tulisan yang sekarang kita kenal dengan “naskah kuno daun lontar”.
                Mengawali dengan zikir, memohon keselamatan lewat iringan doa adalah langkah awal perjalanan saya menyusuri naskah kuno bersama ketiga rekan saya menuju Desa Ketara, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB pada hari Selasa, 22 Oktober 2019 yang lalu.
Kurang lengkap rasanya perjalanan tanpa ada hambatan di dalamnya. Jadwal yang ngaret akibat salah satu rekan masih sibuk mengurusi skincare (perawatan wajah) karena takut panas, sampai menunggu konfirmasi dari pemilik naskah mengenai pertemuan yang sudah kami sepakati sebelumnya adalah alasan mengapa perjalanan kami yang awalnya direncanakan pada pukul 07.00 malah berakhir di angka 09.00 wita. Tidak sampai disana, saya dan ketiga rekan saya yang seharusnya berjalan beriringan dari Mataram, malah terpisah akibat lampu merah di perempatan Pagesangan. Alhasil, saya yang mengira mereka masih di belakang saya harus menunggu di bundaran Gerung dan memakan waktu cukup lama. Kenyataan bahwa ternyata kedua rekan saya yang berboncengan sudah tiba di lokasi yang akan kami tuju membuat saya yang juga berboncengan dengan teman saya memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya.
Singkat cerita, kami akhirnya tiba dengan wajah kusam terkena debu jalanan selama perjalanan. Kami tidak tiba di kediaman pemilik naskah, melainkan di kantor tempat beliau bekerja. Kalau kemudian ada pertanyaan mengapa kami tidak menuju ke rumah beliau? Itu karena kami sudah membuat janji terlebih dahulu dan diminta untuk datang saja ke kantor. Kantor yang kami datangi bukanlah kantor batu bara atau kantor pelayanan asuransi jiwa, melainkan kantor desa Ketara sebagai pusat pemerintahan di desa tersebut. Pemilik naskah yang akrab dipanggil Mamiq Vera dengan nama asli Lalu Mustaan adalah sekretaris desa sekaligus budayawan NTB yang kerap memimpin jalannya prosesi “Sorong  Serah Aji Krame” sebagai seorang Pembayun dalam prosesi pernikahan suku Sasak. Ketika tiba di kantor desa, kami disambut baik oleh aparat desa yang bertugas dan tidak lupa bapak kepala desa Ketara, Lalu Buntaran. Kami yang datang sebagai anak muda tentu mendapat jabatan hangat ketika mengutarakan keinginan untuk melakukan pendalaman pengetahuan terkait budaya terlebih desa Ketara beberapa waktu yang lalu dinobatkan sebagai salah satu desa Wisata.
Dipersilahkan duduk di ruang kepala desa dengan sofa empuk, disajikan minuman dingin menghadapi cuaca yang terik dan beberapa cemilan ringan membuat saya pribadi merasa sebagai tamu agung. Sebenarnya ketika kami tiba disana masih jam kerja kantor, tetapi sebagai bagian dari pekerjaan budaya, pemilik naskah meninggalkan sejenak kursi sekretarisnya menjelma pembayun dengan baju setelan aparatur sipil Negara dengan logo Lombok Tengah di lengan kirinya. Perlahan naskah kuno yang sudah cukup usang bahkan beberapa lembarnya sudah berbubuk dibuka sambil dibaca dengan lantunan khas (nembang). Pemilik naskah kemudian menceritakan apa isi dari naskah tersebut. Isinya menarik, tapi menurut saya yang lebih menarik adalah bagaimana Mamiq Vera (pemilik naskah) menceritakan isi naskah tersebut dengan bahasa khas pembayun dengan dialek Meriak-Meriku (pujut) di dalam lingkup rekan-rekan saya yang berasal dari berbagai daerah, terlebih dari Bima. Adapun judul dari naskah yang dibaca adalah “Serat Lontar Jabalkap”. Naskah itu sendiri menceritakan kisah Datu Jabalkap pada masa kepemimpinannya yang memiliki putra tunggal bernama Raden Satir dan Raden Jayangrane (saudara sesusunya). Kisah tersebut cukup berbelit, tapi ada banyak pengajaran yang bisa saya tangkap. Sebenarnya cerita dari naskah tersebut bahkan belum seperempat diceritakan, tapi sudah memakan waktu satu jam sehingga memaksa kami untuk menyimak inti-intinya saja. Adapun pengajaran yang terkandung di dalam naskah tersebut adalah membantu sesama saudara, keangkuhan dalam diri manusia, meragukan kekuasaan Tuhan, adat berbahasa, berpakaian, dan masih banyak lagi sehubungan dengan kehidupan sosial masyarakat pada umumnya.
Kalau pada pemahaman orang lain, ketika membuka naskah kuno harus dengan ritual tertentu, menurut Mamiq Vera, sebenarnya yang menjaga dan mampu menjaga naskah itu adalah diri kita sendiri selaku pemilik naskah kuno. Ketika saya bertanya ada berapa naskah yang beliau miliki, beliau hanya tersenyum dan menyebutkan beberapa judul seperti Rengganis, Bandarsile, Jatisuare, Dulang Mas, “kalau diceritakan semuanya, tiga hari saja tidak cukup” timpanya kemudian. Posisinya selaku budayawan menuntutnya untuk memiliki banyak naskah. Memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai berbagai disiplin bidang seperti agama, politik, sosial, adat istiadat, dan sebagainya menjadi sebuah kepentingan mutlak bagi beliau dan masyarakat yang tinggal di lingkungannya. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya tuangkan, tapi membatasinya adalah sebuah keharusan. Membiarkannya tersusun rapi di dalam ingatan adalah langkah bijak agar cerita-cerita tersebut hanya tampil disaat ia dibutuhkan saja. Terima kasih sudah membaca.

                        

   Dokumentasi: bersama Lalu Mustaan (Mamiq Vera) selaku pemilik naskah.


28 komentar:

  1. Ditunggu artikel-artikel selanjutnya ya

    BalasHapus
  2. Bagus, semoga warisan budaya tetap dijaga dan dilestarikan ke cucu2 kita nantinya

    BalasHapus
  3. Lohhh kok mirip adek sih kaka..??

    BalasHapus
  4. Lohhh kok mirip adek sih kaka..??

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah nambah ilmu lagi. Salfok sma yg jilbab abu. Kira" nyari apa ya.😊

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah nambah ilmu lagi. Btw salfok sma yg jilbab abu. Kira" nyari apa ya😆

    BalasHapus
  7. Karena isinya tentang adab dan adat dimasyarakat, naskah jabalkap ini bagus untuk di pelajari. 👍👍

    BalasHapus
  8. bagusss sekaliii
    semangat teruss aluh☁️❤️

    BalasHapus
  9. Keren, sangat bermanfaat semoga tetap melestarikan adat budaya nenek moyang.

    BalasHapus
  10. Secara keseluruha tulisan ini sangat bagus, mulai dari isinya yang mampu menambah wawasan serta pemilihan kata yang digunakan sangat pas dan ringan sehingga kita dengan mudah mengerti apa tujuan dari tulisan ini, hemat saya, alangkah baiknya jika ada kata asing atau kata yang bukan bahasa indonesia dicetak miring agar mudah diketahui, hehe semangat menulis luh (pak musa)��

    BalasHapus