SERAT LONTAR JABALKAP DI DESA KETARA PUJUT LOMBOK TENGAH
Terkikisnya rasa bangga dan cinta terhadap budaya menjadi persoalan baru
yang sedang kita hadapi di tengah merbaknya moderenisasi pada kalangan
milenial, khususnya di pulau Lombok. Hal tersebut mendorong saya untuk
mengetahui bagaimana sebenarnya budaya, adat, maupun pedoman hidup yang sudah
dianut oleh nenek moyang (papuk baloq) suku sasak dan disepakati dalam bentuk
tulisan yang sekarang kita kenal dengan “naskah kuno daun lontar”.
Mengawali dengan zikir, memohon
keselamatan lewat iringan doa adalah langkah awal perjalanan saya menyusuri
naskah kuno bersama ketiga rekan saya menuju Desa Ketara, Kecamatan Pujut,
Kabupaten Lombok Tengah, NTB pada hari Selasa, 22 Oktober 2019 yang lalu.
Kurang lengkap rasanya perjalanan tanpa ada hambatan di dalamnya. Jadwal
yang ngaret akibat salah satu rekan masih sibuk mengurusi skincare (perawatan
wajah) karena takut panas, sampai menunggu konfirmasi dari pemilik naskah
mengenai pertemuan yang sudah kami sepakati sebelumnya adalah alasan mengapa
perjalanan kami yang awalnya direncanakan pada pukul 07.00 malah berakhir di
angka 09.00 wita. Tidak sampai disana, saya dan ketiga rekan saya yang
seharusnya berjalan beriringan dari Mataram, malah terpisah akibat lampu merah
di perempatan Pagesangan. Alhasil, saya yang mengira mereka masih di belakang
saya harus menunggu di bundaran Gerung dan memakan waktu cukup lama. Kenyataan
bahwa ternyata kedua rekan saya yang berboncengan sudah tiba di lokasi yang
akan kami tuju membuat saya yang juga berboncengan dengan teman saya memacu
kendaraan lebih cepat dari biasanya.
Singkat cerita, kami akhirnya tiba dengan wajah kusam terkena debu
jalanan selama perjalanan. Kami tidak tiba di kediaman pemilik naskah,
melainkan di kantor tempat beliau bekerja. Kalau kemudian ada pertanyaan
mengapa kami tidak menuju ke rumah beliau? Itu karena kami sudah membuat janji
terlebih dahulu dan diminta untuk datang saja ke kantor. Kantor yang kami
datangi bukanlah kantor batu bara atau kantor pelayanan asuransi jiwa,
melainkan kantor desa Ketara sebagai pusat pemerintahan di desa tersebut.
Pemilik naskah yang akrab dipanggil Mamiq Vera dengan nama asli Lalu Mustaan
adalah sekretaris desa sekaligus budayawan NTB yang kerap memimpin jalannya
prosesi “Sorong Serah Aji Krame” sebagai
seorang Pembayun dalam prosesi pernikahan suku Sasak. Ketika tiba di kantor
desa, kami disambut baik oleh aparat desa yang bertugas dan tidak lupa bapak
kepala desa Ketara, Lalu Buntaran. Kami yang datang sebagai anak muda tentu
mendapat jabatan hangat ketika mengutarakan keinginan untuk melakukan
pendalaman pengetahuan terkait budaya terlebih desa Ketara beberapa waktu yang lalu
dinobatkan sebagai salah satu desa Wisata.
Dipersilahkan duduk di ruang kepala desa dengan sofa empuk, disajikan
minuman dingin menghadapi cuaca yang terik dan beberapa cemilan ringan membuat
saya pribadi merasa sebagai tamu agung. Sebenarnya ketika kami tiba disana
masih jam kerja kantor, tetapi sebagai bagian dari pekerjaan budaya, pemilik
naskah meninggalkan sejenak kursi sekretarisnya menjelma pembayun dengan baju
setelan aparatur sipil Negara dengan logo Lombok Tengah di lengan kirinya.
Perlahan naskah kuno yang sudah cukup usang bahkan beberapa lembarnya sudah
berbubuk dibuka sambil dibaca dengan lantunan khas (nembang). Pemilik naskah kemudian
menceritakan apa isi dari naskah tersebut. Isinya menarik, tapi menurut saya
yang lebih menarik adalah bagaimana Mamiq Vera (pemilik naskah) menceritakan
isi naskah tersebut dengan bahasa khas pembayun dengan dialek Meriak-Meriku
(pujut) di dalam lingkup rekan-rekan saya yang berasal dari berbagai daerah,
terlebih dari Bima. Adapun judul dari naskah yang dibaca adalah “Serat Lontar
Jabalkap”. Naskah itu sendiri menceritakan kisah Datu Jabalkap pada masa
kepemimpinannya yang memiliki putra tunggal bernama Raden Satir dan Raden
Jayangrane (saudara sesusunya). Kisah tersebut cukup berbelit, tapi ada banyak
pengajaran yang bisa saya tangkap. Sebenarnya cerita dari naskah tersebut
bahkan belum seperempat diceritakan, tapi sudah memakan waktu satu jam sehingga
memaksa kami untuk menyimak inti-intinya saja. Adapun pengajaran yang
terkandung di dalam naskah tersebut adalah membantu sesama saudara, keangkuhan
dalam diri manusia, meragukan kekuasaan Tuhan, adat berbahasa, berpakaian, dan
masih banyak lagi sehubungan dengan kehidupan sosial masyarakat pada umumnya.
Kalau pada pemahaman orang lain, ketika membuka naskah kuno harus dengan
ritual tertentu, menurut Mamiq Vera, sebenarnya yang menjaga dan mampu menjaga
naskah itu adalah diri kita sendiri selaku pemilik naskah kuno. Ketika saya
bertanya ada berapa naskah yang beliau miliki, beliau hanya tersenyum dan
menyebutkan beberapa judul seperti Rengganis, Bandarsile, Jatisuare, Dulang
Mas, “kalau diceritakan semuanya, tiga hari saja tidak cukup” timpanya
kemudian. Posisinya selaku budayawan menuntutnya untuk memiliki banyak naskah.
Memberikan tambahan ilmu pengetahuan mengenai berbagai disiplin bidang seperti
agama, politik, sosial, adat istiadat, dan sebagainya menjadi sebuah
kepentingan mutlak bagi beliau dan masyarakat yang tinggal di lingkungannya.
Ada banyak hal yang sebenarnya ingin saya tuangkan, tapi membatasinya adalah
sebuah keharusan. Membiarkannya tersusun rapi di dalam ingatan adalah langkah
bijak agar cerita-cerita tersebut hanya tampil disaat ia dibutuhkan saja.
Terima kasih sudah membaca.
Dokumentasi: bersama Lalu Mustaan (Mamiq Vera) selaku pemilik naskah.


Keren. Semoga bermanfaat
BalasHapusMenarik. Semangat nulis lagi
BalasHapusDitunggu artikel-artikel selanjutnya ya
BalasHapusBagus, semoga warisan budaya tetap dijaga dan dilestarikan ke cucu2 kita nantinya
BalasHapusWihhhhh Sekut sih ini
BalasHapusMantap 👍
BalasHapusWahh bermanfaat sekali tulisannya
BalasHapusLohhh kok mirip adek sih kaka..??
BalasHapusLohhh kok mirip adek sih kaka..??
BalasHapusBagus sekali artikelnya😊
BalasHapusBagus dan informatif sekali 👍
BalasHapusAlhamdulillah nambah ilmu lagi. Salfok sma yg jilbab abu. Kira" nyari apa ya.😊
BalasHapusAlhamdulillah nambah ilmu lagi. Btw salfok sma yg jilbab abu. Kira" nyari apa ya😆
BalasHapusBaru tau saya 😂
BalasHapusKeren memang
BalasHapusInfo yang bermanfaat. 👍
BalasHapusKarena isinya tentang adab dan adat dimasyarakat, naskah jabalkap ini bagus untuk di pelajari. 👍👍
BalasHapusBagus Luh😍😍 luar biasa
BalasHapusbagusss sekaliii
BalasHapussemangat teruss aluh☁️❤️
Serat lontar jabalkap..
BalasHapus👍👍👍👍👍
BalasHapusKeren, sangat bermanfaat semoga tetap melestarikan adat budaya nenek moyang.
BalasHapusKeren luhh❤️
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren
BalasHapusSecara keseluruha tulisan ini sangat bagus, mulai dari isinya yang mampu menambah wawasan serta pemilihan kata yang digunakan sangat pas dan ringan sehingga kita dengan mudah mengerti apa tujuan dari tulisan ini, hemat saya, alangkah baiknya jika ada kata asing atau kata yang bukan bahasa indonesia dicetak miring agar mudah diketahui, hehe semangat menulis luh (pak musa)��
BalasHapusBagus sekali artikelnya 👍
BalasHapusWaa keren.
BalasHapus