NYEPUT; KAMU HARUS LEBIH MENDENGARKAN NASEHAT ORANG LAIN. PROSESI BUDAYA SASAK DI DESA BUNJERUK, KECAMATAN JONGGAT, KABUPATEN LOMBOK TENGAH. (CATATAN PERJALANAN BAGIAN II)
Bermula dari penelusuran naskah kuno, rasanya tidak cukup jika hanya meliriknya tanpa tau manfaat dari keberadaannya. Itulah persepsi pertama yang membawa saya pada sebuah perjalanan panjang ke Desa Bunjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah.
Lewat sambungan telepon saya menanyakan perihal salah satu prosesi adat yang menggunakan naskah kuno sebagai objek kajiannya kepada pemilik naskah yang pada minggu sebelumnya kami datangi. Namun beliau menjelaskan bahwa di Desa Ketara tidak ada prosesi adat yang demikian. “Hanya di wilayah tertentu saja baru ada”, tambahnya kemudian ketika saya menjelaskan mengenai nyeput. Saya pertama kali mendengar istilah tersebut pada sebuah pertemuan di dalam suatu diskusi budaya, sehingga rasa penasaran membawa saya untuk mencari lebih dalam perihal bagaimana caranya bekerja.
Karena tidak bisa menjalani ritual nyeput di Mamiq Vera selaku pemilik naskah kuno yang pernah saya datangi sebelumnya, saya berinisiatif untuk mencari tokoh lainnya yang bisa menerangkan mengenai ritual yang satu ini. Salah seorang teman memberikan petunjuk, tetapi syarat yang dibutuhkan untuk menjalani ritual tersebut teramat sulit untuk ditemukan. Bunga sasak sepuluh rupa, biji-bijian yang tidak saya ingat namanya, bahkan bunga Edelweis yang beberapa waktu lalu hampir menjerumuskan pemuda/i karena mencabutnya dari bumi Rinjani. Jangan sampai kejadian yang sama terulang kemudian saya yang ditunjuk sebagai pelakunya. Dengan segala rasa hormat, keinginan bapak saya abaikan dahulu.
“Ini siapa?”.
Kalimat tersebut menyapa saya ketika memberi salam kepada tokoh lain yang untuk kedua kalinya lewat saran seorang teman. Setelah menjelaskan beberapa hal, bapak tersebut belum berani meng-iya-kan lantaran ritual ini tak bisa dilakukan sendiri, harus ada dua orang teman yang menemani. Pikir saya, secara semantik saya ditolak dengan sebuah kalimat preposisi. Namun, bapak yang saya tulis namanya sebagai Pak Hasan ternyata menelpon kembali untuk menyatakan kesediaannya membantu saya menjalani ritual nyeput. Pada kesempatan kali ini saya tidak sendiri, ada rekan-rekan saya yang juga turut serta.
Singkat cerita, sesuai perjanjian saya memacu kendaraan dari Mataram setelah sholat ashar. Sesuai arahan pak Hasan, saya harus datang di waktu sore sehabis ashar. Saya mengingat pesan salah seorang guru; “Tamu adalah raja. Dan raja yang baik adalah raja yang menyediakan kebutuhan bagi rakyatnya”. Bukan imbalan, saya lebih senang menyebutnya lapis salam. Membawa beberapa kilo beras, gula, dan sedikit uang tidak menjadi masalah mengingat bagaimana sulitnya menemukan orang yang bisa menjalani ritual nyeput ini.
Pak Hasan sudah menelpon, beliau menanyakan keberadaan saya karena ternyata beliau sudah menanti cukup lama. Hampir setengah jam berlalu, akhirnya saya menemukan orang yang saya cari. Beliau menanti di perempatan Bunjeruk dan membawa saya beserta teman-teman yang lain menuju rumah salah satu rekannya, Pak Sahdi. Hari sudah cukup sore, tanpa banyak basa-basi kami memulai ritual yang dimaksud; “Kita tidak ada ritual khusus ya, cukup hanya sebatas kalian tau apa itu nyeput. Selebihnya bisa kalian cari tau di lain kesempatan”.
Untuk menjalani prosesi nyeput, saya diminta memilih selembar naskah kuno yang akan dibaca, diterjemahkan, kemudian diberikan maknanya yang katanya akan sesuai dengan karakter maupun kehidupan orang yang dinyeput. Saya memilih naskah kuno daun lontar Asmarandana dengan takepan Juwarsah. Pak Sahdi mulai nembang, kemudian Pak Hasan menerjemahkannya. Setelah selesai, pak Hasan berkata bahwa saya adalah orang yang cuek. Cuek dalam artian saya tidak memperdulikan permasalahan yang saya hadapi. Ada banyak lika-liku yang akan saya temui, tetapi ada sesuatu yang menantinya selepas itu. Percaya atau tidak, itu adalah bagian dari prosesi budaya. Tugas kita mempelajarinya, bukan mengkritisinya.
Prosesi Nyeput: (baju kuning, pak Hasan. Bhaju hitam, pak Sahdi).
Adzan maghrib sudah berkumandang; “Sekarang saya berhak mengusir kalian”, ucap pak Hasan. Bukan apa, hari sudah petang dan beliau khawatir kepada saya dan teman-teman saya kalau harus pulang jauh malam-malam. Kami tersenyum karena kami tau beliau bermaksud baik. Karena sudah terlalu malam, saya memutuskan untuk menginap di rumah salah satu teman yang juga tinggal di Bunjeruk, sekali lagi kami menjadi tamu dan dijadikan raja semalam. Terima kasih Mey-Mey.
Kembali ke persoalan naskah kuno, ada banyak sekali pendekatan dalam pengkajiannya. Menurut saya, pendekatan yang paling tepat untuk memandang ritual yang satu ini adalah pendekatan semiotik, yaitu pendekatan yang memandang karya sastra (naskah kuno) sebagai sistem tanda. Karya sastra adalah sistem tanda tingkat kedua, berada satu tingkat di bawah bahasa selaku sistem tanda tingkat pertama. Anggapan ini diperkuat dengan aspek dari tanda yaitu penanda dan petanda. Berbeda dengan bahasa, penanda dan petanda dalam karya sastra (naskah kuno) sangat ditentukan oleh konvensi dari sastra itu sendiri. Artinya ada kesepakatan yang menyebabkan perbedaan makna antara bahasa yang sesungguhnya dengan petanda yang ada di dalam karya sastra khususnya naskah kuno.
Naskah yang dijadikan objek nyeput.
Foto bersama



